Ketika banyak pendidik mendengar kata asesmen, yang terbayang biasanya adalah ujian besar di akhir periode atau nilai yang merangkum seluruh hasil belajar. Mereka berpikir bahwa asesmen hanya terjadi ketika pembelajaran sudah selesai. Padahal ada bentuk asesmen lain yang tidak menunggu sampai akhir, melainkan berlangsung di tengah proses belajar. Bentuk itu disebut asesmen formatif. Tujuannya bukan menghakimi siswa, melainkan membantu mereka belajar lebih baik pada saat masih ada waktu untuk memperbaiki arah.
Apa beda asesmen formatif dengan asesmen sumatif
Asesmen sumatif memeriksa hasil di akhir tahapan dan biasanya diwujudkan dalam bentuk nilai atau sertifikat. Sementara asesmen formatif mengumpulkan petunjuk tentang apa yang sudah dipahami siswa dan apa yang masih sulit, lalu memakai petunjuk itu untuk menyesuaikan cara mengajar dan memberikan umpan balik lebih cepat. Keduanya sama-sama berguna, tetapi tujuannya berbeda: yang satu memeriksa, yang lain mendorong. Jika semua asesmen hanya dipakai untuk menilai dan tidak pernah untuk memperbaiki, maka sisi formatifnya hilang.
Mengapa umpan balik begitu berpengaruh
Penelitian John Hattie dan banyak penulis lain menunjukkan bahwa umpan balik termasuk faktor yang paling kuat pengaruhnya terhadap belajar. Namun tidak semua umpan balik sama baiknya. Umpan balik yang paling membantu bersifat jelas dan berpusat pada tugas, bukan pada orangnya: umpan balik itu menyebut di mana siswa keliru, apa yang sudah baik, dan ke arah mana harus melanjutkan. Ketika siswa memahami tiga hal itu, penilaian berubah menjadi penuntun, bukan pintu yang tertutup. Untuk memperluas gagasan ini, pembaca dapat membuka materi tentang asesmen dari Edutopia.
Rutinitas sederhana untuk menerapkannya di kelas
Untuk memulai tidak perlu teknologi baru. Rutinitas sesederhana exit ticket memungkinkan setiap siswa menulis di selembar kartu, di akhir pelajaran, satu gagasan yang dipahami dan satu pertanyaan yang masih mengganjal; guru membaca kartu itu dan menyusun pelajaran berikutnya. Cara ini telah dijelaskan dalam artikel kami tentang exit ticket sebagai refleksi penutup. Pertanyaan cepat dengan isyarat tangan dan pengamatan singkat saat siswa mengerjakan tugas juga efektif. Yang penting bukan membuat tugas semakin rumit, melainkan menjalankan siklusnya: mengumpulkan bukti lalu menyesuaikan langkah berikutnya.
Memberikan umpan balik yang benar-benar membantu
Ucapan singkat semacam pujian saja tidak banyak berarti. Kalimat yang menyebut bagian mana yang sudah baik, bagian mana yang perlu diperbaiki, dan bagaimana cara memperbaikinya jauh lebih berguna. Rubrik yang disusun bersama siswa, seperti contoh pada artikel rubrik analitik untuk penilaian proyek, membantu semua pihak memahami arti kata baik. Umpan balik sebaiknya diberikan tepat waktu, menyebutkan hal yang perlu diperbaiki secara spesifik, dan menawarkan langkah berikut yang realistis. Dengan begitu siswa sibuk memperbaiki pekerjaan, bukan sekadar menunggu angka.
Kesalahan umum ketika menerapkannya
Salah satu kesalahan paling sering adalah memberi nilai pada setiap tugas, termasuk tugas latihan; akibatnya siswa menjadi takut berbuat salah. Kesalahan lain adalah memberikan umpan balik terlambat sehingga siswa sudah pindah ke tugas lain. Kesalahan yang ketiga adalah tidak menjelaskan bahwa kesalahan adalah titik awal, bukan hukuman. Gagasan ini erat kaitannya dengan pola pikir berkembang yang sudah kami bahas pada growth mindset untuk guru. Asesmen formatif juga cocok dengan merencanakan pembelajaran dari tujuan akhir, seperti pada perencanaan backward dari tujuan.
Pada dasarnya asesmen formatif menuntut keputusan sederhana tetapi penting: memakai pertanyaan dan kesalahan siswa bukan untuk menghakimi hasil akhir, melainkan untuk mengarahkan perjalanan belajar. Artinya lebih sedikit beban nilai dan lebih banyak pengamatan, lebih sedikit vonis dan lebih banyak pendampingan. Tidak perlu menulis ulang seluruh materi. Cukup memulai dengan satu rutinitas yang jelas, memakainya secara rutin, dan selalu mengingat bahwa penilaian dapat menjadi bagian dari belajar, bukan sekadar momen menghitung angka. Perubahan kecil semacam itu membuat kelas terasa lebih aman dan setiap kesalahan dipandang sebagai batu loncatan.
Posting Komentar untuk "Asesmen Formatif: Umpan Balik yang Membantu Siswa Belajar, Bukan Sekadar Nilai"