Rumusan masalah sering terlihat sederhana karena biasanya hanya berupa beberapa kalimat tanya. Namun, bagi banyak mahasiswa, bagian ini justru menjadi titik yang menentukan arah skripsi: apakah penelitian akan fokus, bisa dikerjakan, dan mudah dipertanggungjawabkan saat bimbingan maupun sidang.
Kalau rumusan masalah terlalu luas, skripsi berisiko melebar ke mana-mana. Kalau terlalu sempit, data yang diperlukan bisa kurang kuat. Karena itu, rumusan masalah perlu disusun dengan logika yang jelas sejak awal, bukan sekadar mengubah judul menjadi kalimat tanya.
Mengapa rumusan masalah penting?
Rumusan masalah adalah jembatan antara latar belakang, tujuan penelitian, metode, sampai kesimpulan. Apa yang ditanyakan dalam rumusan masalah seharusnya akan dijawab melalui data dan analisis penelitian. Dengan kata lain, bagian ini menjadi kompas utama agar peneliti tidak keluar jalur.
Dalam praktiknya, rumusan masalah yang baik membantu mahasiswa menjelaskan tiga hal: apa persoalan yang diteliti, batas mana yang akan dikaji, dan jawaban seperti apa yang ingin dicari. Jika tiga hal ini belum jelas, biasanya bab berikutnya juga ikut kabur.
Sebelum menyusun rumusan masalah, pastikan latar belakang sudah menunjukkan adanya kesenjangan atau masalah yang layak diteliti. Jika masih bingung, Anda bisa membaca kembali panduan cara membuat latar belakang penelitian yang baik.
1. Mulai dari masalah, bukan dari judul
Kesalahan umum mahasiswa adalah membuat rumusan masalah langsung dari judul. Misalnya judulnya tentang “pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar”, lalu rumusan masalahnya langsung menjadi “Apakah ada pengaruh media pembelajaran terhadap hasil belajar?”
Kalimat seperti itu tidak selalu salah, tetapi sering terlalu cepat. Sebaiknya mulai dari masalah nyata yang ingin diselesaikan. Contohnya: hasil belajar rendah, pembelajaran kurang interaktif, siswa pasif, atau media yang digunakan belum sesuai dengan karakter materi.
Dari masalah tersebut, barulah Anda menentukan variabel, konteks, dan subjek penelitian. Dengan cara ini, rumusan masalah tidak terasa tempelan, melainkan lahir dari kebutuhan penelitian.
2. Batasi konteks penelitian dengan tegas
Rumusan masalah yang baik tidak mencoba menjawab semua hal. Ia memiliki batas yang jelas. Batas ini bisa berupa lokasi penelitian, jenjang pendidikan, mata pelajaran, kelompok responden, periode waktu, atau jenis data yang digunakan.
Misalnya, pertanyaan “Bagaimana pengaruh penggunaan teknologi terhadap pendidikan?” terlalu luas untuk skripsi. Pertanyaan itu bisa dipersempit menjadi: “Bagaimana pengaruh penggunaan video pembelajaran terhadap motivasi belajar siswa kelas VIII pada materi tekanan zat?”
Versi kedua lebih mudah diteliti karena jelas medianya, aspek yang diukur, subjeknya, dan materinya. Dosen pembimbing juga akan lebih mudah menilai apakah metode dan instrumen yang dipilih sudah sesuai.
3. Pastikan setiap pertanyaan bisa dijawab dengan data
Rumusan masalah bukan pertanyaan opini. Setiap pertanyaan harus bisa dijawab menggunakan data, baik data kuantitatif, kualitatif, maupun campuran. Jika pertanyaannya tidak bisa dijawab melalui proses penelitian, sebaiknya diperbaiki.
Contoh yang kurang tepat: “Mengapa metode ini paling baik untuk semua siswa?” Pertanyaan tersebut terlalu mutlak. Contoh yang lebih terukur: “Bagaimana respons siswa terhadap penerapan metode diskusi berbantuan lembar kerja pada materi tertentu?”
Untuk penelitian kuantitatif, rumusan masalah sering mengarah pada hubungan, pengaruh, perbedaan, atau peningkatan. Untuk penelitian kualitatif, rumusan masalah biasanya mengarah pada proses, pengalaman, makna, strategi, atau faktor pendukung dan penghambat.
4. Gunakan kata tanya yang sesuai dengan tujuan
Pilihan kata tanya akan memengaruhi arah penelitian. Kata “apakah” biasanya digunakan untuk menguji ada atau tidaknya hubungan, pengaruh, atau perbedaan. Kata “bagaimana” cocok untuk menggali proses, strategi, respons, atau implementasi. Kata “sejauh mana” dapat digunakan ketika peneliti ingin melihat tingkat atau derajat suatu fenomena.
Contoh:
- Apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang menggunakan media simulasi dan siswa yang menggunakan media konvensional?
- Bagaimana proses penerapan model pembelajaran berbasis proyek dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa?
- Sejauh mana penggunaan aplikasi referensi membantu mahasiswa dalam menyusun daftar pustaka skripsi?
Jika kata tanyanya tepat, metode penelitian biasanya lebih mudah ditentukan. Sebaliknya, jika kata tanyanya kabur, tujuan penelitian ikut kabur.
5. Jangan membuat terlalu banyak rumusan masalah
Untuk skripsi, rumusan masalah tidak perlu terlalu banyak. Dua sampai empat pertanyaan biasanya sudah cukup, tergantung jenis penelitian dan arahan kampus. Terlalu banyak pertanyaan dapat membuat penelitian tidak fokus dan menyulitkan pembahasan.
Prinsip sederhananya: satu rumusan masalah sebaiknya memiliki satu arah jawaban. Hindari satu pertanyaan yang memuat terlalu banyak hal sekaligus, misalnya menanyakan pengaruh, hambatan, efektivitas, dan persepsi dalam satu kalimat panjang.
Contoh pengembangan rumusan masalah
Misalnya topik awalnya adalah penggunaan aplikasi manajemen referensi untuk membantu mahasiswa menulis skripsi. Topik ini masih umum. Agar lebih fokus, tentukan dulu masalahnya: mahasiswa sering salah menulis sitasi, daftar pustaka tidak konsisten, dan proses pengelolaan sumber bacaan kurang rapi.
Dari masalah tersebut, rumusan masalah dapat dibuat seperti berikut:
- Bagaimana tingkat pemahaman mahasiswa terhadap penggunaan aplikasi manajemen referensi dalam penulisan skripsi?
- Apa saja kesulitan mahasiswa dalam menggunakan aplikasi manajemen referensi?
- Bagaimana penggunaan aplikasi manajemen referensi membantu konsistensi sitasi dan daftar pustaka?
Rumusan tersebut lebih terarah karena fokus pada pemahaman, kesulitan, dan manfaat penggunaan aplikasi referensi. Pembaca juga langsung bisa membayangkan jenis data yang perlu dikumpulkan.
Checklist cepat sebelum konsultasi ke dosen pembimbing
Sebelum membawa rumusan masalah ke dosen pembimbing, coba cek beberapa hal berikut:
- Apakah rumusan masalah benar-benar berangkat dari latar belakang?
- Apakah variabel atau fokus penelitian sudah jelas?
- Apakah subjek, lokasi, atau konteks penelitian sudah dibatasi?
- Apakah pertanyaan bisa dijawab dengan data?
- Apakah jumlah pertanyaan masih realistis untuk dikerjakan?
- Apakah rumusan masalah sejalan dengan tujuan penelitian?
Jika sebagian besar jawabannya “belum”, lebih baik revisi dulu sebelum masuk ke tahap penyusunan instrumen atau pengumpulan data.
Hubungan rumusan masalah dengan novelty
Rumusan masalah juga berkaitan dengan kebaruan penelitian. Kebaruan tidak selalu berarti menemukan teori baru. Dalam skripsi, novelty bisa muncul dari konteks yang berbeda, subjek yang berbeda, metode yang lebih sesuai, kombinasi variabel, atau fokus masalah yang belum banyak dibahas.
Karena itu, setelah rumusan masalah disusun, lakukan pengecekan artikel atau penelitian terdahulu melalui sumber seperti Google Scholar. Anda juga dapat merapikan referensi menggunakan aplikasi seperti Zotero agar sumber bacaan lebih tertata.
Untuk memahami kebaruan secara lebih sederhana, silakan baca juga tulisan tentang apa itu novelty dalam penelitian dan state of the art dalam penelitian.
Penutup
Rumusan masalah yang baik membuat skripsi lebih mudah diarahkan. Kuncinya adalah mulai dari masalah yang nyata, membatasi konteks penelitian, memilih kata tanya yang sesuai, dan memastikan setiap pertanyaan bisa dijawab dengan data.
Jangan takut merevisi rumusan masalah beberapa kali. Dalam proses penelitian, revisi bukan tanda gagal, melainkan bagian dari menyaring ide agar penelitian menjadi lebih tajam. Semakin jelas rumusan masalahnya, semakin mudah pula Anda menyusun tujuan, metode, pembahasan, hingga kesimpulan.
Foto: Unsplash
Posting Komentar untuk "Cara Menyusun Rumusan Masalah Skripsi agar Tidak Melebar"